Pengk(e)deran yang ‘Meriah’


Penambahan kata ‘Maha’ pada kata ‘Siswa’ tentu harus diperkenalkan terlebih dahulu. Dimana, seorang siswa yang asalnya menuntut ilmu di sekolah, berubah menjadi mahasiswa yang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Tentu akan terasa perbedaan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan pendidikan pada jenjang pembelajaran yang ditempuh sebelumnya, baik dalam aspek akademik maupun sosial budaya. Agar mampu beradaptasi dengan suasana baru, maka dibuatlah pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru.


Pengenalan kehidupan kampus atau yang lebih sering disebut Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus), sudah diatur oleh Keputusan Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 096/B1/SK/2016, tentang Panduan Umum Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru. Dalam pedoman tersebut sudah dijelaskan secara rinci mengenai tujuan, materi bahkan pelaksanaannya. Ospek Unsil memiliki nama khusus dan berbeda dengan universitas lain, yaitu OMBUS (Orientasi Mahasiswa Baru Universitas Siliwangi) yang tentu dalam pelaksanaannya mengacu pada pedoman tersebut.


Setelah melewati OMBUS, setiap fakultas dan jurusan memiliki kegiatan masa bimbingan (Mabim) dengan konsep yang berbeda-beda bahkan nama yang berbeda pula. Disini, terlihat bahwa konsep kaderisasi disesuaikan dengan budaya dan kebutuhan yang diperlukan.


Namun terkadang, ada pengkaderan yang diwarnai dengan gegap gempita kemeriahan untuk tercapainya suatu gagasan idealis, namun terkesan pragmatis, berbau kapitalis. Keidealan tersebut menjadi sebuah keharusan yang terkesan memaksakan, karena lupa untuk mempertimbangkan kemampuan dan keberagaman, yang dipicu dengan alasan tujuan-tujuan (mereka), yaitu kemeriahan dan keidealan. Kemeriahan bukan dijadikan sebagai ukuran idealnya suatu pengkaderan mahasiswa baru. Apalagi secara tidak langsung memaksa mahasiswa baru untuk mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit dan terkadang memberatkan bagi sebagian mahasiswa baru. Tapi apalah daya mahasiswa baru hanya bungkam karena ketakutan akan penilaian, dan hasil akhir kelulusan. Atau mungkin terjadi sistem pengkaderan yang menghasilkan kemeriahan, sampai membuat lupa karena terlalu nyaman sehingga tumbuh bibit keapatisan.


Dengan keapatisan yang tumbuh sedikit demi sedikit karena dididik oleh kehingar-bingaran kemeriahan suatu acara pengkaderan, hal tersebut membuat mahasiswa lupa akan tugasnya sebagai social control. Terbukti dengan terkikis sedikit demi sedikitnya yang telah mengakibatkan mahasiswa kurang peka terhadap keaadaan disekitarnya. Mereka lupa bahwa disekitarnya masih banyak orang yang membutuhkan bahkan mereka sendiri membutuhkan. Namun karena mendewakan kemeriahan, mereka akhirnya memaksakan sesuatu tanpa mempertimbangkan dahulu kemampuan yang dimiliki.


Pengkaderan yang dilakukan Ormawa ada yang ditafsirkan menjadi pengkederan Ormawa ‘Kapitalis’ karena mereka menjual pengkaderan demi menghisap uang, tenaga, dan waktu demi iming-iming sebuah penilaian, kemeriahan, dan keidealan tanpa mempertimbangkan kemampuan yang ada pada masing-masing pribadi yang membuat objeknya menjadi ‘keder’. Mengutip perkataan Muhammad al-Fayyadl “Kapitalisme memang tidak merampok langsung hartamu, tapi ia menghisap waktumu dan tenagamu. Dua hartamu yang tak tergantikan dan mempola kerjamu”.


Acara pengkederan di Ormawa ‘Kapitalis’ itu seperti menghisap rokok, dihisap kemudian sebagian nikotin menempel kemudian sebagiannya lagi dikeluarkan dan terhempas begitu saja. Zat nikotin sebagai zat candu, kenikmatan semu. Padahal menghisap rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Candu yang menjadikan hasrat supaya meinginkannya lagi bahkan lebih dari kemarin hingga ketergantungan.


Semakin berhasrat untuk menghisap asap lebih banyak supaya asap yang terhembus keluar bisa lebih banyak hingga lebih meriah dan menjadi sebuah kenikmatan dan kepuasan tersendiri bagi penghisapnya. Dari tahun ke tahun akan terus terjadi pengulangan kasus yang sama. Pengkaderan yang mewah jelas bukan sebuah kesalahan. Namun memberatkan sebagian mahasiswa jelas sebuah kesalahan. Tidak semua mahasiswa orang berpunya, tidak semua mahasiswa bisa dipukul rata sebagai orang yang punya. Untuk apa ada Bidikmisi, jika uang yang 650.000 rupiah per bulan itu habis dipakai untuk membayar biaya pengkaderan?


Uang, waktu, dan tenaga di satu paketkan. Mungkin ada yang pernah merasakan problematika-problematika pengkaderan ini, tapi kenapa orang yang bersangkutan malah mengulang problematika tersebut kepada adik tingkatnya? Mungkin saja terjadi akibat dibebani target yang harus lebih meriah dari pengkaderan sebelumnya. Sehingga  tidak terlalu mempertimbangkan uang, tenaga, dan waktu yang harus dikorbankan. Berbanding terbalik dengan kapasitas yang ada, karena yang terpenting proker (program kerja) berjalan dengan tepat waktu dan meriah. Namun disini yang harus digaris bawahi adalah jangan berpikir ingin meriah terlebih dulu, apalagi dengan membebani mahasiswa baru sebagai objeknya. Alangkah lebih baiknya membuat acara pengkaderan sederhana namun esensinya sangat bermakna supaya membentuk rasa keperihatinannya yang akan menjadi landasan dari karakternya. Setelah pembentukan karakter tersebut tercapai, barulah memikirkan kemeriahan dengan memanfaatkan apa yang ada sesuai dengan kemampuan. Memaksimalkan fasilitas kampus yang ada, dengan budget yang tidak terlalu besar, namun bisa meriah karena ada sentuhan kreativitas. Misalnya acara outdoor party di Taman Kampus dengan iringan musik akustik atau tradisional, dihiasi cahaya-cahaya kecil sebagai bibit harapan, keakraban serta canda tawa ditemani kehangatan, dan ada makanan yang tengah dihidangkan langsung dari panggangan.


Dengan adanya sedikit cubitan ini semoga bisa menambah ‘kemeriahan’ acara yang diselenggarakan. Pengkadaran mahasiswa yang terpenting adalah esensi dan tidak memberatkan baik dalam segi keuangan, waktu, dan tenaga karena setiap orang tidak bisa dipukul rata. Hampir semua orang setuju bahwa hal terpenting dari seorang mahasiswa adalah kapasitas dan kemampuannya, bukan kemewahan. Maka dari itu, pengkaderan adalah hal yang paling fundamental.


Jika Anda bergetar dengan geram setiap melihat ketidakadilan, maka Anda adalah kawan saya.” -Che Guevara-


(Dzaky Muhamad Zaenal Mutaqin, Manajemen 2017)

Pengk(e)deran yang ‘Meriah’ Pengk(e)deran yang ‘Meriah’
Reviewed by LPM Gemercik on Monday, May 07, 2018 Rating: 5

Fashion

Close