Ada Cerita di KKN


Awal mendengar kata KKN banyak pertanyaan yang muncul di pikira saya, apa itu KKN ? 

mengapa harus KKN ? dan bagaimana KKN itu ?, itulah beberapa pertanyaan yang sering muncul sebelum menginjak tahun mengkontrak KKN dalam sistem akademik.
KKN merupakan kepanjangan dari kuliah Kerja Nyata yang menjadi salah satu mata kuliah di luar kelas atau bisa disebut kerja lapangan. Mengapa harus KKN ?, secara umum alasan mengapa harus 


KKN adalah untuk menempatkan mahasiswa diantara masyarakat dan bagaimana cara
bersosialisasi serta berdampingan dengan warga sekitar, sesuai dengan tuntutan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang salah satu nya yaitu Pengabdian kepada Masyarakat. 

Bagaimana KKN itu
? ini lah pertanyaan yang kadang kala membuat saya bingung untuk pertama kali, apa sebenarnya
yang harus dilakukan ketika KKN ? dan indikator keberhasilan apa yang harus di capai ? lalu bukti
suksesnya sebelah mana ?.


Pertama kali mengikuti KKN memang terasa sangat canggung dan juga bingung, banyak dari kaka tingkat yang telah mengikuti KKN dengan rasa yang berbeda beda. Ada yang mengartikan kegiatan KKN adalah kegiatan yang santai, serius dan seru, dan fokus pada kebutuhan masyarakat dan adapula yang mengatakan bahwa KKN itu yang penting dekat dengan warga tidak peduli
program seperti apa.


Kebetulan saat itu, saya mendapati posko 66 KKN 2018 UNSIL yang lokasinya di desa
linggalaksana, kecamatan Cikatomas dengan tema Pendidikan, jarak dari kota Tasikmalaya cukup jauh, dengan menempuh sekitar 1,45 Jam bisa sampai ke lokasi KKN.


Pertama kali saya kumpul bersama tim atau kelompok, serasa ada batasan tersendiri, kebanyakan pada Jaim atau “Jaga Image” (termasuk mungkin saya juga hehe). Kelompok saya memang tidak terlalu banyak melakukan pertemuan sebelum pelaksanaan KKN cukup 1 sampai 3 pertemuan hanya untuk membahas hal hal yang inti, kesebut cukup santai juga, namun tetap harus menargetkan sesuatu akan kebutuhan KKN nanti.


Hal yang paling kontroversi dalam kumpulan perdana kelompok adalah ketika pemilihan
kordinator desa (kordes), disini kebanyakan dari anggota enggan menjadi kordes karena takut disibukkan dalam hal koordinasi kesana dan kemari serta tanggung jawab yang berat. Pertama penunjukan kordes yaitu dilemparkan kepada saya, bahwa saya harus menjadi kordes ? bahkan ada yang bilang autokordes ?, entah apa yang harus saya sampaikan menerima atau tidak. Namun pada saat itu saya baru saja menjabat sebagai CEO Management Student Organization periode
2018, bukan tidak mau namun takutnya tidak maksimal dan sedikit kinerja berkurang dalam hal koordinasi karena akan terbagi dua fokus.

Akhirnya kawan-kawan dari kelompok tidak jadi menunjuk saya jadi kordes, dipilih lah Syahrul dari Pendidikan Biologi sebagai Kordes dan wakilnya seorang Wandara dari Ekonomi Pembangunan. Saya pikir meskipun tidak menjadi kordes tapi untuk berkontribusi dengan kegiatan In sha Allah akan selalu dimaksimalkan.


Setelah penunjukan struktural, kebetulan saat itu saya dipilih menjadi divisi acara dalam KKN
serta pengembangan program KKN. Dalam penentuan program KKN, kelompok saya tidak
menentukan di awal pra KKN, tapi setelah beberapa hari ketika pelaksanaan, karena lebih
mengutamakan kebutuhan dan keinginan dari masyarakat supaya lebih sesuai dan tepat guna.


Program pertama yang kami laksanakan adalah sosialisasi Trik dan Tips dalam menghadapi Ujian Nasional bagi siswa-siswi Mts. Tentu ada alasan tersendiri, selain dari alasan peningkatan akademik namun setelah penelusuran dan survey warga serta tokoh masyarakat bahwa yang harus di tingkatkan adalah usia lanjut sekolah ke jenjang yang lebih tinggi yang masih rendah, karena
secara ekonomi penduduk disini, cukup lumayan, justru karena hal ini, kebanyakan anak-anak lebih memilih untuk bekerja disbanding meneruskan pendidika ke jenjang yang lebih tinggi, oleh sebab itu kami menjalankan program ini sekaligus sebagai motivasi bagi anak anak Mts.Linggalaksana agar termotivasi untuk mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


Program selanjutnya yaitu mengenai bimbingan belajar, untuk membantu nilai akademik anak-anak di Linggalaksana, program ini dilaksanakan di posko kami, jadi anak-anak bisa belajar sambil
bermain di posko untuk menjaga silaturahmi juga. Beberapa program edukasi juga kami jalankan seperti ekstrakurikuler dan juga kegiatan lomba-lomba yang dimuat di acara Linggalaksana Creative Project.
Selain pengalaman dalam mengembangkan program pendidikan, pengalaman yang sangat
berharga bagi saya adalah ketika membantu dalam pemberdayaan curug, di desa ini ada 3 curugyaitu curug Koja, Curug Cibakom, dan Curug Ciwatin, meskipun di luar konteks pendidikan.


Namun tetap ada unsur edukasi, yaitu bagaimana caranya memanfaatkan potensi alam dan menjadi sumber pemasukan bagi masyarakat. Dalam pengembangannya kelompok saya berhasil tembus dalam hal publikasi yang dimuat di fokus jabar dan juga kabar priangan sebagai ajang pengenalan curug yang belum terekspos ini, khususnya curug ciwatin yang belum tersentuh pengelolaan pemerintah bahkan masyarakat sekitar pun belum mengelola dengan manajemen yang sebagaimana halnya tempat wisata. Dalam pergerakkan berdayakan curug, kami membantu di masalah petunjuk arah karena lokasi desa linggalaksana masuk ke dalam dari arah kecamatan maka
diperlukannya petunjuk arah khususnya ke semua curug tersebut. Geowisata ini menjadi modal dan tempat potensial untuk dikelola lebih baik. Keseruan juga tidak hanya sampai disitu, kami selama KKN dapat berbaur dengar warga dalam pengembangannya, seperti melakukan kegiatan survei dan dokumentasi curug, lalu kami juga di suguhkan pemandangan dan kenikmatan makanan
dari alam, seperti kelapa, beserta buah-buahan yang ada dapat kami makan langsung mengambil dari pohonnya, kebersamaan disini semakin erat karena kami memiliki visi yang sama dalam pengembangan curug.
Keseharian kami memang cukup unik, mungkin anggapan KKN itu santai, ya bisa jadi KKN itu santai, ataupun sebaliknya bisa jadi KKN itu sibuk juga, tergantung pada diri kita masing-masing bagaimana cara menyikapinya.yang paling sering saya tanyakan di KKN adalah makan dengan
apa ? dan kapan kita bisa main ? haha itulah kerjaan selama KKN, kalo ga main ya makan atau tidur, tapi tidak seperti itu juga, ketika memang ada program kerja yang harus dilakukan maka saya lakukan dengan semaksimal mungkin.


Selain dari kegiatan keseharian, kawan kawan KKN juga memiliki keunikan tersendiri tiap
harinya, dari mulai bahasa asal daerah masing-masing kampong halaman, tingkah laku, dan juga aktivitas tidur, tidur juga seolah lagi paduan suara (banyak suaranya), kalo pake musik kayanya selama 35 hari KKN bisa jadi 1 album, sebagian banyak yang tidur mendengkur, cerita ini menjadi bagian dari kami sebagai ajang relaksasi dan bahan candaan agar tidak terlalu tegang dalam
menghadapi keseharian KKN. Dan tentunya kegiatan piket di posko seolah menjadi penjara tanpa hukum selain harus diam di posko untuk jaga jaga, disana harus kerja juga nyuci, bersih-bersih, beres-beres dan lain lain, yang paling lucu adalah ketika slogan “yang piket yang piket” menjadi ciri khas ketika sedang di posko utama.


Program penutup selama KKN yaitu kegiatan lomba lomba bagi anak-anak PAUD sampai Mts dan juga pesta rakyat bagi warga sekitar, meskipun ini bukan program utama, akan tetapi kami lebih melihat kepada keinginan warga, dengan diadakannya kegiatan ini, maka di harapkan mampu lebih mendekatkan diri terhadap warga dan wargapun merasa senang serta nyaman dengan kedatangan kami. Selain daripada program penutupan dengan inisatif, kami juga membuat program penutup sebagai bukti bakti abdi kami kepada desa, dalam hal ini saya mengusung program ECOBRICK yaitu pengolahan sampah plastik menjadi barang yang lebih berguna tanpa melalui proses yang rumit, program ini ditempuh melalui kegiatan percontohan di PAUD dusun Mekarsari desa Linggalaksana, dan karya-karya ECOBRICK hasilnya diserahkan kepada desa sebagai kenang-kenangan dan diharapkan menjadi pengembangan program lingkungan bagi desa
yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. 

Program inilah yang membuat saya puas selama KKN, mengapa ? walaupun penyelenggarannya sangat sederhana, namun memiliki nilai yang tinggi, dari segi edukasi, lingkungan, serta sumberdaya manusia, dan dalam program ini saya mendapati pesan
yaitu tentang bagaimana caranya kita bersedekah kepada alam dalam pemanfaatan sampah menjadi barang yang bernilai tinggi sampai tiba dimana pada saat itu, kami kekurangan sampah untuk melakukan ECOBRICK tersebut. Suatu hal yang sangat langka ketika mendengar kekurangan sampah apalagi di negara ini, ya mudah-mudahan tetap terjaga dalam melestarikan lingkungan khususnya penanganan sampah.


Pengalaman selama KKN banyak sekali pelajaran bagi saya, selain dekat dengan masyarakat dan ilmu yang saya pelajari saat ini, suatu saat pasti akan terpakai dan berguna bagi masyarakat, karena kedekatan dengan masyarakat saya lebih mengenal tenatng bagaimana cara untuk hidup, bagaimana cara untuk menjalani hari-hari dengan kelebihan ataupun dengan keterbatasan yang ada, hal yang paling penting bagi saya adalah tentang pembentukan karakter, moral dan budi pekerti luhur,saya mempelajari itu semua selama KKN dan juga saya dapat memahami tentang
bagaimana cara mengendalikan ego dan mampu menghargai orang lain sebagaimana orang lain apa adanya, terlepas dari benar atau salah dengan program yang kami jalankan, namun kami berharap semuanya dapat bermanfaat bagi kami dan semua pihak terutama masyarakat. Kutipan yang sesuai bagi saya selama selama KKN ini adalah “hidup itu singkat, jadi kita harus menikmati
kehidupan ini dengan segala kemampuan dan potensi yang ada, kebahagiaan akan terasa nyata ketika kita mampu membagikannya, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi
orang lain”.


(Rahmat Abdul Kharisma, Manajemen 2015)

Ada Cerita di KKN Ada Cerita di KKN Reviewed by LPM Gemercik on Monday, May 07, 2018 Rating: 5

Fashion

Close