35 Hari Merindukanmu


Malam sebelum pemberangkatan KKN, doa dipanjatkan untuk bisa bertemu denganmu walau hanya melihat dari kejauhan atau sepintas. 


Kekuatan doa. Keesokan harinya di tengah keramaian, Sang Pencipta mengizinkan untuk bertemu, bertatap serta saling mengucapkan kata selamat jalan dan semoga sukses. Ketika hendak bertolak menuju tempat pengabdian masing-masing, aku ke Barat menuju gunung dan kamu ke Timur menuju laut. Mungkin sedikit lupa untuk menyertakan tempatnya, tapi radarku menyeret menuju antenamu, tak peduli di mana tempatnya bila itu denganmu, aku bisa apa?


Sungguh aku bingung dengan keadaan ini, bagaimana cara mengekspresikan rindu tanpa ku katakan padamu secara terang-terangan, hanya bisa ku tulis dalam puisi dan melantukan puisi-puisi rindu. Sampai suatu hari takdir membawa logika bertanya-tanya.
Hari itu, hari ke-20. Segalanya dipersiapkan untuk menuju kampus tercinta. Bersama tiga orang teman dari KKN, ku agendakan terlebih dahulu untuk melaksanakan perwalian menghadapi semester 6 nanti dan bersama mereka hendak menyebar surat proposal untuk kelancaran salah satu program kerja KKN. Shinta, salah satu teman yang menyertaiku di perjalanan, sementara dua orang lainnya menyusul. 


“Shin, nanti ke atm BTN dulu yaa”, kataku ketika berada di Jl. Mayor SL. Tobing.
“ATMnya yang di Padayungan atau Sutsen, teh? Aku mah kemana aja ayo”. Tanya Shinta memastikan tujuan.
“Bebas sih, tapi yang di Padayungan aja biar ga terlalu jauh ke kampus", jawabku.
Kami tiba di Bank BTN dan langkahku langsung menuju tujuan, ATM. Ada seorang laki-laki yang sudah masuk sehingga aku antre di depan pintunya. Ketika giliranku datang, aku terlalu dekat dengan pintu ATM hingga lupa memberikan ruang untuk orang yang hendak keluar. Dan saat langkah mundur teratur itu, aku melihat kamu berjalan menuju ke arahku. Mata ini ku tajamkan dan kaki ini ku pastikan menapak di teras depan bank.
”Ini sungguhan? Itu benar-benar kamu?” dada ini bergemuruh, hati bertanya-tanya senang dan heran.
“Ih kok disini? Lagi ngapain?” pertanyaan klasik yang sebaiknya tidak dilontarkan, tapi hati ini meminta mulut untuk berkata demikian.
“Ya ke ATM mau ngambil uang, kamu yang ngapain disini?”
Tuh kan, sudah tau tidak usah ditanyakan, tapi kenapa kamu bisa disini? Di hadapanku?
Aku langsung bergegas masuk ke ATM sementara pintunya dibiarkan tetap terbuka karena antrean selanjutnya itu kamu, tapi soal pintunya, ah entahlah. Sampai dua kali salah memasukkan password, segugup inikah? Sehebat itukah perjumpaan ini? Sampai gilirannya datang kartu ATMku masih di mulut mesin. Dengan sedikit geram, kamu menasihatiku sambil menyodorkan kartu itu. Ah kegugupan macam apa lagi ini, tolong kendalikan aku.


Setelah semua urusan di ruang ATM selesai, kami menuju tempat parkir dan jantung ini kembali tak karuan. Ketika kamu mendekat sampai tersisa jarak dua jengkal dan obrolan singkat pun tercipta. Tolong jangan menatap mata ini, aku tak kuasa menatap balik ke dalam bola matamu. Terlebih ketika tinggi badan yang tak sama membuatku seakan semakin menjadi kerdil saja karena tersudutkan oleh postur tubuhmu yang jangkung. Tapi karena itu pula terasa aman ada benteng seperti kamu, sebagai pelindung bukan penghalang. 


Waktu tak memihak banyak pada kita, karena tujuan yang berbeda. Aku baru sampai Tasik dan kamu harus meninggalkannya dengan jarak tempuh kurang lebih 70 km menuju tempat pengabdian. Ku pastikan untuk terakhir kali, kamu menuju teman-temanmu di seberang jalan, dan aku pergi berlawanan arah.
Semua kejutan di hari itu ku tumpahkan di perjalanan. Teriak, hanya itu yang bisa ku lakukan. Bisa kau bayangkan, bukan teriakan semacam naik wahana ekstrem di tempat wisata, tapi jeritan dari mata sampai ke hati. 


Pagi ini tak bisa ku deskripsikan
dengan kata dan tinta
atas dasar rindu
yang sekedar ku gantung
di pertengahan senja
Dan puisi ini untukmu:
Kamu benci jarak?
Ketika rindu terbayar bertemu,
kadang batas sejengkal
buatku sulit bernafas
Atas sesaknya rindu yang terendap,
atau sesak lain yang tercipta
dari pancaran mata.
Kamu benci jarak?


Rinduku masih sama, di hari ke-24 ku lontarkan pertanyaan bodoh tentangmu dan tentangnya. Seharusnya tidak ku tanyakan, karena memang tidak perlu untuk dipertanyakan, tapi jari ini terlanjur menyentuh huruf demi huruf di keyboard obrolan pesan dalam jaringan. Sampai hari ke-31 kamu memutuskan untuk tidak menggubris segala yang aku tanyakan. Hari ke-34 aku lupa manisnya merindu, lembutnya menunggu, dan indahnya bertemu. Di hari ke-35 potongan rindu itu ku beritakan di bendungan senja, biar air membawanya sampai ke tempatku, tempatmu, atau bermuara di laut yang sedang kau nikmati sunsetnya.


(Ira Nirmala, Pendidikan Bahasa Inggris 2015)

35 Hari Merindukanmu 35 Hari Merindukanmu Reviewed by LPM Gemercik on Monday, May 07, 2018 Rating: 5

Fashion

Close