Menjaga Angklung sebagai Warisan Budaya, Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?

Situ Cibeureum (24/03) menjadi tempat diadakannya workshop acara SenAng (Seni Angklung) yang bertujuan untuk mencetak instruktur angklung, dan peserta yang mengikuti kegiatan ini dapat dipilih menjadi relawan angklung yang akan disebarkan ke SMP dan SMA. Latar belakang dari diadakannya acara ini berawal dari surat edaran dari disdikpemprov yang kemudian diturunkan ke pemkot bahwa disetiap sekolah harus ada angklung.


"Satu hal yang menjadi masalah adalah tenaga pengajarnya," menurut M. Rizal Mardiansyah selaku ketua pelaksana dari acara,  maka dari itu acara ini dilaksanakan untuk mencetak instruktur instruktur angklung yang nantinya jika ditempatkan di sekolah masing-masing relawan angklung.


Mirisnya Keunikan angklung yang masuk kedalam warisan budaya dunia UNESCO bisa saja ditarik, karena sebagian besar rakyat Indonesia tidak terlalu mempedulikannya. Jika bukan rakyat indonesia yang melestarikan seni angklung, siapa lagi? Ketua pelaksana mengharapkan Tasikmalaya dapat membuahka instruktur-instruktur angklung yang kompeten, dan menyadari persepsi masyarakat bahwa angklung bukanlah ikon bandung saja namun ikon dari Jawa Barat, bahkan Indonesia.


Acara SenAng (Seni Angklung) ini memberikan tiga tahap; workshop yang dilaksanakan 24 maret 2018, pelatihan dilakukan oleh relawan angklung yang dipilih dari workshop SenAng, dilaksanakan 4 pertemuan pada bulan april nanti. Mei di sekitar awal bulan akan diadakan pagelaran, hasil dari pelatihan yang dilaksanakan dengan lagu-lagu yang sudah ditentukan, para siswa SMP dan SMA yang mengikuti acara ini dikumpulkan di satu tempat dan bermain bersama-sama di pagelaran nanti. (Vanka)

Menjaga Angklung sebagai Warisan Budaya, Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi? Menjaga Angklung sebagai Warisan Budaya, Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?
Reviewed by LPM Gemercik on Sunday, March 25, 2018 Rating: 5

Fashion

Close