Bukan Pemimpin Eksistensi Belaka

Kampus kita tercinta, Universitas Siliwangi selama kurun waktu 3 bulan terakhir ini telah melaksanakan pesta demokrasi yang terselenggara di masing-masing Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Organisasi Mahasiswa (Ormawa) tingkat universitas, fakultas hingga jurusan. Tak hanya di ranah mahasiswa, kegiatan pesta demokrasi ini juga dilangsungkan untuk pemilihan rektor baru Universitas Siliwangi. Maka, dengan kata lain hampir di seluruh elemen kampus ini telah mempunyai pimpinan barunya masing-masing.


Orang-orang hebat dengan keberanian yang telah menempatkan dirinya sebagai seorang pemimpin yang amanah ini harusnya telah mempunyai mental yang kuat untuk segala resiko yang ada sebagaimana seorang pemimpin itu. Hal yang berat ini terang saja telah dibubuhi oleh orang-orang hebat di balik kemenangannya dalam mencapai puncak. Seorang pemimpin memang harus mempunyai seseorang yang “sebut saja partner” untuk menjadi orang kepercayaannya dalam menjalankan roda organisasi, orang tersebutlah yang paling bisa diandalkan dalam segala situasi kepemimpinannya.


Berbeda dengan UKM yang bertanggung jawab terhadap pengembangan kreatif serta tanggung jawab anggotanya serta kebijakan lembaga, Ormawa mempunyai tanggung jawab yang lebih besar lagi karena selain anggota, ada mahasiswa lainnya yang membutuhkan perhatian dari para pejabat kampus ini. Orang-orang yang telah memberanikan dirinya untuk mengabdi terhadap kampus ini sudah sepatutnya tidak menjadi angkuh dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai wakil mahasiswa, tetapi harus menjadi wadah yang terus bisa menuangkan hal baik dalam perubahan yang maju dalam pembenahan sistem hingga hal-hal kecil yang dibutuhkan mahasiswa.


Pada perspektif mahasiswa sendiri, Ormawa sering kali tidak berguna dalam pengembangan diri oknum mahasiswa ini. Kesalahan sendiri tak bisa serta – merta ditanggung oleh Ormawa, karena para wakil ini tentu mempunyai program-program yang mendukung mahasiswa untuk mengembangkan bakatnya ataupun sebuah wadah aspirasi bagi mahasiswa yang umum.


Adapun untuk pimpinan organisasi sendiri haruslah mempunyai sikap yang menenangkan. Maksudnya adalah tak kala ada sebuah permasalahan hadir, setiap elemen yang panik atau merasa dirinya tidak mampu menyelesaikan masalah ini butuh seseorang yang selalu bisa menjadi motivator atau selalu bisa memotivasi anggotanya untuk memecahkan masalah. Namun bukan dengan cara yang manja, tetapi tetap tegas dan membuat anggota hingga masyarakat atau mahasiswanya nyaman di bawah kepemimpinannya. Ini merupakan tanggung jawab yang berat, namun mau tak mau harus tetap dilakukan. Jika kepalanya sudah lemah menjalani permasalahan, maka anggota tubuh lainnya akan sulit bergerak. Itulah mengapa pemimpin harus bisa bersikap tenang sekalipun emosinya sulit dikendalikan.


Seorang pimpinan sendiri harus bersikap profesional tatkala dirinya sedang dalam keadaan apapun, tidak pilih kasih ataupun membedakan satu anggota dengan anggota lain misalnya, karena pimpinan harus bisa mengondisikan organisasi untuk tetap berjalan lancar, sekalipun ada kebobrokan di dalamnya. Pimpinan sudah sepatutnya menjadi tameng yang siap mendorong anggotanya ke medan perang. Siap bertanggung jawab atas mental tiap anggota adalah hal yang perlu diperhatikan seorang pemimpin. Itulah mengapa pemimpin perlu mengetahui karakter tiap anggotanya agar mengetahui cara menghadapi tiap kepala yang berbeda ini.


Ada pula tantangan besar bagi seorang pimpinan ialah berani dibenci. Keputusan seorang pimpinan pastinya akan menumbuhkan pro – kontra, hal inilah yang harus dihadapi untuk memilih apa yang terbaik untuk organisasi yang diamanahkan untuk dipimpinnya. Pihak yang kontra ini sudah pasti akan memberikan respon menjadi kelompok oposisi atau yang menentang organisasi sang pimpinan ini nantinya. Pimpinan harus siap dengan segala situasi yang dihadapinya, menjaga dan mengayomi anggota adalah tugasnya.


Pemimpin juga perlu melakukan pelatihan terhadap bidang – komisi – divisi yang dibutuhkannya agar para anggota nantinya akan mengerti caranya berorganisasi secara lebih rinci. Tanpa adanya upgrading serta pelatihan kepemimpinan, maka anggota yang meraba – raba sendiri tupoksi yang akan dilakukannya justru menjalankan eksperimen hingga kritikan yang banyak dari pihak – pihak yang merasa ada hal yang kurang hingga salah atas yang dilakukan anggotanya ini. Pemahaman terhadap organisasi adalah suatu keharusan, serta pendekatan antar anggota agar membentuk organisasi yang punya nilai kekeluargaan. Tempat ternyaman akan melahirkan orang – orang berkualitas karena bekerja dengan hati.


Tak dapat dipungkiri beratnya menjadi seorang pimpinan ialah tanggung jawab dunia yang pada akhirnya dipertanggungjawabkan di akhirat. Maka perlu kesiapan dari segala elemen kehidupan. Pada akhirnya pemimpin yang sukses ialah pemimpin yang mampu menjadi orang terpercaya tiap anggotanya serta yang terpenting ialah menjadikan amanah ini sebagai ranah menuju kebaikan, bukan ranah melakukan keburukan atau kepentingan diri pribadi, sehingga yang utama ialah kepentingan bersama. (Iftihal Muslim Rahman)


“Mendidik Dengan Hati Menciptakan Insan Terdidik Yang Berkualitas Secara Lahir Dan Batin”  -IMR-

Bukan Pemimpin Eksistensi Belaka Bukan Pemimpin Eksistensi Belaka
Reviewed by LPM Gemercik on Thursday, February 01, 2018 Rating: 5

Fashion

Close