Cerpen : Temu Jemari Itu



Tangan besar nan kasar itu lucunya mengusap lembut jemari lentik berkuku cantik dihadapannya. Selalu saja tangan itu seolah mampu berucap;

“Tak apa, tak akan ada hal lebih buruk yang akan terjadi. Semuanya baik-baik saja.”

Namun masih tak ada respon, kepala pemilik jemari lentik ini masih pada posisi tertunduk, belum habis pula uap air di jendela matanya.

Perlahan kepala lain mendekatkan pandangnya pada muka yang basah. Ia tersenyum! Ia tampak selalu suka melihat raut gadis mungilnya saat menangis, mungkinkah tampak begitu polos dan manis?

Dan gadis ini mulai merasakan tangan hangat yang tak asing mengusap kepalanya, “ah, sungguh aku suka ini!” hati gadis ini mulai nyengir dengan sendirinya.


Senin, 03 Juli 2017
07:15 WIB

Tiba-tiba kopi ini terasa terlalu manis, lagi! Apa-apaan ini?! Ah, ingatan yang membuatku diabetes itu lagi rupanya. Ponselku bergetar, tanda pesan masuk

“Sudah berangkat ngampuskah?”
“Tak ada kelas, Mas. Kok masih pegang hp?”

“Masih ngopi. Kamu, pakai jaketmu! Diluar terlalu dingin.” Masih tahu saja dia. Teras, bunga di pekarangan rumah dan mentari pagi, tak pernah kulewatkan.

“Makan nasi, jangan cuman sarapan kopi sama rokok saja!”

“Jangan khawatir.”

Hhmmm… kutarik nafas panjang. Kami ini, apa?

Dia begitu melindungiku, (sejak) dulu. Sekarangpun, sungguh tak luput mengkhawatirkanku. Tidakkah dia menganggapku sebagai seorang wanita? Walau, sendirinya pun dalam kebimbangan. Kasih ini, dibagi pada seorang pria atau hanya selayaknya pada seorang kakak yang tak sedarah denganku? Seseorang yang bahkan baru kukenal di kelas 1 SMA.

“Lekas pulang! Aku rindu, aku ingin temu.” Kuputuskan membalas pesan itu meski aku tahu dia sudah pergi bekerja.



Minggu, 23 Juli 2017
16:39 WIB

Setengah jam sudah aku menyaksikan manusia urban turun naik bis, namun tak satupun merupakan dia yang kutunggu.

Tunggu! 10 meter horizontal dengan arahku, seseorang menyunggingkan senyum. Benar! Dia, tampak cukup berbeda.

Sungguh, aku menunggumu, Mas. Menunggumu, menunggu banyak jawaban atas pertanyaan atau atas harapan mungkin pula. Tak henti hatiku mengoceh dengan banyak tanda tanya.

Wanitakah aku ini bagimu?
Atau hanya beberapa sumber simpati tak berguna?
Akankah kita tetap seperti ini untuk waktu yang lama dengan sangat berhati-hati?
Apakah cinta menjadi kemewahan yang takkan pernah dapat kita miliki?
Seketika tubuh atletis itu tepat di mukaku, ada jua yang mengusap rambutku. Ya, jemari itu!
Apa-apaan lagi ini?!

Namun, aku hanya mampu berjalan tepat di belakang langkahnya. Dan jemariku, tepat di genggamannya…


Cibeureum, Tasikmalaya
17 August 2017
07:15 WIB
-May Atull-
Cerpen : Temu Jemari Itu Cerpen : Temu Jemari Itu Reviewed by LPM Gemercik on Monday, August 28, 2017 Rating: 5

Fashion

Close