Budaya Berdiskusi Mulai Terkikis

Tak ada hentinya berbicara mengenai sosok mahasiswa, kaum intelektual yang memiliki pengaruh besar bagi negara, bahkan sempat menorehkan sejarah yang mewarnai perkembangan negeri ini. Dunia kampus menjadi tempat mahasiswa menorehkan gagasan dan mencari ilmu serta pengalaman luas. Terasa begitu hambar jika mahasiswa hanya terpaku pada materi yang diberikan dosen. Terlalu dangkal bila mengandalkan buku-buku tebal yang dianjurkan dosen. Meski tak jarang buku tebal tersebut hanya pemanis yang dipeluk saat menuju kampus atau bahkan sandaran terlelap di malam hari.


Demi mengembangkan pemikiran intelektual mahasiswa jaman ini, pola pikir mahasiswa perlu diperbaharui. Mahasiswa cenderung merasa puas tercekok mata kuliah dari dosennya. Tak ada hasrat ingin mengetahui lebih dalam lagi. Ilmu bukan hanya apa yang diucapkan sang guru. Pengalaman selama menjadi mahasiswa adalah pelajaran hidup yang beresensi tinggi. Terbiasa melakukan pemecahan masalah di lingkungan kampus menjadi pijakan melangkah untuk memecahkan semerawutnya permasalahan negara ini, mengingat kampus adalah miniatur negara.

Budaya diskusi di kalangan mahasiswa nyaris meredup, bahkan mulai ditelan jaman. Budaya diskusi atau kajian terkikis oleh pemikiran mahasiswa yang terkontaminasi materialisme, membawa mahasiswa menjadi apatis dan cenderung hedonis. Naasnya, mahasiswa pasif menganggap budaya diskusi sebagai hal yang kuno. Virus apatis dan hedonis membentuk karakter mahasiswa yang memiliki sifat individual atau berkelompok dengan orang tertentu. Cenderung pemilih dalam mencari teman, sehingga tak mau berbaur bersama mahasiswa lainnya.

Kurangnya membaca buku menjadi faktor utama meredupnya budaya diskusi. Minat baca mahasiswa mulai menurun. Mudahnya mendapat teori lewat gadget membuat mahasiswa enggan membaca buku dan jarang berkunjung ke perpustakaan. Lebih mementingan membeli kuota internet dibandingkan buku. Mahasiswa tentu selalu mendapat tugas kelompok dalam pembuatan makalah mata kuliah. Dosen mengharapkan mahasiswa dapat berdiskusi dengan anggota kelompoknya. Namun dalam pembuatan makalah tersebut, mahasiswa asal mengklik copy-paste tanpa menkaji terlebih dahulu bersama anggota kelompoknya. Hasilnya, mahasiswa tidak akan memahami isi materi.

Begitu jarang Ormawa (Organisasi Mahasiswa) yang mengadakan kegiatan diskusi atau kajian bersama Ormawa lainnya. Padahal, dengan adanya kegiatan diskusi dapat pula dijadikan sebagai pemersatu silaturahmi Ormawa. Tak lupa dengan menambahnya wawasan yang mengikuti kajian tersebut. Hal yang tidak tahu menjadi tahu, hal yang tahu semakin tahu. Isu-isu yang beredar di kampus akan begitu hangat terselesaikan dengan rapih. Karena mencari pemecahan masalah secara bersama-sama. Namun sayangnya, Ormawa terfokus pada program kerja internalnya saja. Event-event menggiurkan mengalihkan pemikir para aktivis jaman ini. Ormawa tingkat Fakultas dan Jurusan cenderung mementingkan event internalnya, tanpa mau ikut berbaur memikirkan permasalahan kampus.
Dalam kegiatan diskusi menjadi sarana yang tepat dalam menyampaikan aspirasi. Konyolnya, mahasiswa jaman sekarang lebih cenderung berkoar di sosial media. Sibuk mengkritik kebijakan-kebijakan yang menurutnya salah. Mengoceh di sosial medianya mengenai kejanggalan lembaga. Contohnya saja permasalahan Simak Unsil yang sempat tak jelas saat berlangsungnya pengisian KRS, disindir disalah satu akun yang menempelkan nama Universitas. Apakah dengan demikian, pihak lembaga mengetahui dan mendengarkan aspirasi mahasiswanya? Mahasiswa perlu berpikir dan mencari solusi. Jangan asal ramai di sosial media tanpa mau terjun langsung demi memecahkan permasalahan. Adanya kegiatan  diskusi antar mahasiswa membantu dan memperingan guna pemecahan masalah.

Melihat lagi kekosongan jabatan Ormawa Universitas yang sampai saat ini masih tidak ada kejelasan. Jika saja mahasiswa Unsil meredamkan egoisitas demi kemajuan bersama, jika saja mahasiswa Unsil berdiskusi dan kajian guna mencari solusi terbaik, dan jika saja mahasiswa Unsil yang bukan anggota Ormawa/UKM tidak memelihara rasa bodoh amat, tak peduli terhadap kekosongan Ormawa Universitas.

Sudah akan jelas dan mengerucut solusi terbaik untuk kampus ini. Budaya diskusi di Universitas Siliwangi hampir gulung tikar. Biasanya mahasiswa berkumpul di samping Gedung Rektorat. Namun kini hanya pemburu wifi yang tetap asyik duduk lesehan disana. Sampai kapan Unsil memiliki mahasiswa (katanya) yang tidak peka terhadap sekitarnya? Sampai kapan Unsil memiliki mahasiswa yang tidak mau melestarikan budaya diskusi yang mulai terkikis? Mengutip perkataan Pramoedya Ananta Toer, “Apakah gunanya pendapat kalau hanya untuk diketahui sendiri?”, lalu Betrand Russell (ahli matematika), “Do not fear to be eccentric in opinion, for every opinion now accepted was once eccentric. (Jangan pernah takut aneh dalam mengungkapkan pendapat, karena setiap pendapat yang kini diterima pernah dianggap aneh).”

- Siska Fajar Kusuma -
Budaya Berdiskusi Mulai Terkikis Budaya Berdiskusi Mulai Terkikis Reviewed by LPM Gemercik on Monday, July 31, 2017 Rating: 5

Fashion

Close