Democrasy Is Fake Idealist

ilustrasi via nusantara.news
Demokrasi, suatu hal yang sudah tak asing lagi, suatu sistem barat yang di implementasikan di Indonesia. Sistem yang disebut-sebut sempurna ini nyatanya tidak bisa membuat Indonesia menjadi negara maju seperti negara-negara barat yang kini menjadi sangat maju. Pertanyaan bermunculan ketika perlahan kita menyelam ke dalam pembelajaran mengenai "Demokrasi".

Sebenarnya, sistem demokrasi atas dasar kepentingan apa? Karena sistem demokrasi belum mampu diterapkan dengan baik di Indonesia. Demokrasi ada untuk masyarakat yang seperti apa? Teori demokrasi yang dibuat oleh orang barat tersebut apakah mampu diterapkan dengan orang timur? Mengapa orang timur mengikuti sistem tersebut? Apakah hal tersebut merupakan pemaksaan untuk menerapkan sistem demokrasi pada kehidupan dan budaya yang berbeda dengan barat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harusnya sangat mudah di jawab oleh para penguasa di Indonesia. Namun pertanyaan lain pada akhirnya muncul kembali, Siapakah penguasa di Indonesia? Demokrasi dinilai sebagai sistem terbaik untuk kehidupan bernegara, untuk jalannya pemerintahan, di mana masyarakat yang "seharusnya" menjadi penguasa.

Seperti yang didefinisikan oleh Karl Popper bahwa demokrasi sebagai suatu yang berbeda dengan kediktatoran atau tirani, sehingga berfokus pada kesempatan bagi rakyat untuk mengendalikan para pemimpinnya dan menggulingkan mereka tanpa perlu melakukan revolusi.

Namun kenyataannya, pemerintah mengendalikan rakyat. Rakyat hanya bertugas sebagai pemilih, dengan siapa mereka ingin dipimpin. Seluruh masyarakat di dunia yang belajar jelas mengetahui, bahwa sebuah teori sosial akan sulit berjalan sesuai dengan praktiknya. Demokrasi sendiri dalam teorinya didapati bahwa sistem ini konsisten, sempurna dan melengkapi sistem yang sudah ada. Tapi pada praktik justru sebaliknya.

Sistem yang dibuat oleh orang barat dan di praktikan pada masyarakat barat ini mungkin berjalan baik, karena sistem tersebut dibuat untuk mereka. Dan untuk menerapkan sistem tersebut di Indonesia, secara tidak langsung haruslah merubah masyarakat Indonesia untuk berkehidupan seperti orang barat.

Kesadaran sebagai warna negara harus ditekankan, bukan hanya sekedar tinggal, bekerja dan berkeluarga, yang hidup lalu mati, tidak hanya seperti itu. Masyarakat Indonesia harus perlahan mendominasi intelektualitas, yang tidak hanya belajar dan mempraktikan hasil dari belajar. Hal ini ditekankan pada mahasiswa serta tenaga pendidik untuk memulai suatu perubahan.

Mahasiswa berperan bukan hanya sebagai Agen Perubahan masa kuasa tirani di Orde Baru, namun juga pada jaman kapitalis berkuasa. Rezim yang sebenarnya lebih kejam karena merampas paksa budaya Indonesia untuk luntur dan berubah menjadi budaya barat, karena secara tidak langsung pembelajaran-pembelajaran yang dirasakan oleh mahasiswa ialah hasil dari budaya barat.

Mengapa hal tersebut mendominasi dan dibanggakan? Jawabannya adalah, karena dianggap lebih ideal, dianggapnya barat sebagai pemikir-pemikir terbaik hingga pemikiran orang Indonesia sendiri dianggap suatu kebodohan pun ke-sok tahu-an. Kalimat yang tak asingnya ialah "karena rumput tetangga terlihat lebih hijau".

Hal penting yang harus dipahami ialah, bagaimana cara merubah paradigma tersebut? Sangat mudah untuk dijawab, yakni kesadaran diri sendiri. Kesadaran atas persamaan nasib suatu bangsa yang terjajah, rasa nasionalis ini lah yang harus dimiliki untuk merubah nasib bangsa yang terus terjajah hingga saat ini.

Salah satu cara untuk mendapat pemikiran-pemikiran sistem apa yang paling pantas untuk negara dengan begitu banyak budaya dan agama di dalamnya adalah dengan penelitian. Tidak peduli orang barat yang sudah meneliti hal tersebut, sebagai pribumi, rakyat Indonesia lah yang lebih memahami warga se-Tanah Airnya.

Namun dari hal tersebut, bukan berarti kita tidak mempelajari apa yang sudah dikemukakan para ahli dari barat. Kita harus tetap mempelajarinya untuk mengetahui apa-apa saja yang sudah ditemukan, yang sudah ada, sistem seperti apa yang baik pun yang buruk. Namun tak berhenti sampai di situ, rasa penasaran harus timbul dalam diri kita, rasa meragukan hal tersebut, hingga pada akhirnya kita yang maju untuk menemukan apa yang kita cari, apa sistem yang terbaik untuk bangsa dunia ke-tiga ini, untuk Indonesia. Gunanya mempelajari tradisi barat tak lain adalah untuk menghancurkan tradisi tersebut yang menjajah negeri ini. Jika kita hanya diam, menjadi budak pendidikan barat, maka cita-cita bangsa untuk merdeka dan hidup sejahtera hanyalah sebatas angan yang tercantum di Pembukaan UUD 1945.

Bukan demokrasi sistem yang terbaik untuk bangsa ini, bukan ini cita-cita bangsa Indonesia, sistem yang terbaik harus ditemukan oleh bangsa itu sendiri, seperti negara-negara barat yang mendapat sistem demokrasi sebagai sistem terbaik karena itu dihasilkan dari pemikiran orang-orang yang persatuan budayanya sama.

"bangsa ini harus berdiri di kakinya sendiri, berdiri atas sistem yang tercipta oleh masyarakatnya sendiri, bukan terus menjadi budak asing." -imr-

Iftihal Muslim Rahman
Ilmu Politik - Universitas Siliwangi

Democrasy Is Fake Idealist Democrasy Is Fake Idealist Reviewed by LPM Gemercik on Saturday, April 08, 2017 Rating: 5

Fashion

Close