Orang Tua (harusnya) Adalah Mentor Terbaik


Akhir-akhir ini, kita, masyarakat Indonesia disuguhi Pilkada serentak yang terlalu jakarta sentris. Mengapa terlalu jakarta sentris? Karena memang, politik disana panas. Semua pasangan calon merupakan calon yang kompeten dan bisa diasumsikan pantas untuk duduk di kursi panas, kursi gubernur Jakarta. Mulai dari Agus Yudhoyono, yang merupakan anak dari Presiden RI ke-6. Lalu Basuki Tjahya Purnama yang mampu membuat Jakarta berkembang dan pemerintahan sedikit bersih. Hingga, Anis Baswedan yang merupakan eks-Mendikbud yang memelopori peraturan pelarangan kekerasan saat MOPD. 
 

Diantara tiga nama calon gubernur diatas, saya meyoroti Agus Yudhoyono, dengan hasil dari beberapa lembaga survey menilai dirinya dibawah dua calon lain. Diantaranya, LSI (Lembaga Survey Indonesia) yang menunjukan bahwa suara yang diperoleh Agus hanya 16,8%. Bahkan dari data Real Count KPU, Agus hanya mendapat 16,08%.

Tentu ini merupakan sebuah anti-klimaks untuk Agus Yudhoyono, yang pada awal masa kampanye dinilai tertinggi elektabilitasnya, namun pada akhir-akhirnya merosost juga.

Diawal masa kampanye, Agus mengeluarkan program-program yang memang mengejutkan, mulai dari rumah apung, hingga satu miliar untuk setiap RT/RW. Dengan program yang ‘mengejutkan’ tersebut, pantas saja jika Agus memiliki elektabilitas yang tinggi.

Namun apa yang membuat elektabilitas Agus atau lebih trend dengan sebutan AHY ini merosot? Di pertengahan masa kampanye, tentunya masyarakat mulai mendalami program-program yang dikeluarkan oleh masing-masing calon. Dan, celakanya, masyarakat menilai bahwa program satu miliar untuk setiap RT/RW itu mustahil. Selain itu pula, masyarakat tak kunjung mendapat penjelasan tentang rumah apung. Dari situlah awalnya elektabilitas Agus turun.

Diakhir masa kampanye, KPU atau Komisi Pemilihan Umum mengadakan tiga kali debat. Dimana masa ini, merupakan masa yang terbilang masa penurunan paling drastis untuk Agus. Apa yang paling membuat Agus merosot di debat?

Tentu saja, pemikiran baik harus dipaparkan dengan baik pula, karena orang lain menilai dua hal tersebut. Agus tidak berhasil memaparkan program-programnya. Yang saya tangkap selama debat, Agus justru terlalu asik untuk menyerang calon-calon lainnya, mulai dari inkonsistensi Anies yang 2014 menolak Prabowo, hingga Ahok yang sering ‘terlalu tegas’. Sehingga dia lupa dan kehilangan gairah untuk menjelaskan progam-program awal yang membuat nilai elektabilitasnya tinggi seperti awal-awal masa kampanye.

Disamping itu, saya menilai ada masalah lain yang membuat suara yang diperoleh Agus begitu rendah, masalah itu adalah peran Susilo Bambang Yudhoyono gagal menjadi mentor untuk anaknya. Tentu saja, kita tahu, setiap mentor, setiap guru yang baik akan mengajarkan anak didik nya untuk tetap tenang, tidak panik, dan tampil tanpa tekanan. Sebagai contoh, Leichester City bisa jadi juara English Premier League 2015/2016 adalah karena mereka main tanpa tekanan setiap pertandingan. Tapi, Susilo Bambang Yudhoyono, gagal membuat anak didik sekaligus anak kandungnya sendiri tampil tanpa tekanan. Disetiap debat yang saya lihat, Agus begitu tertekan.

Selain itu, Tugas mentor yang paling berat adalah mencarikan jati diri asli, jati diri yang cocok untuk anak asuhnya. Jika kamu juga melihat setiap debat Pilkada DKI, kamu akan menyadari, bahwa AHY atau Agus Harimurti Yudhoyono tampil tidak sebagai dirinya sendiri. Agus yang merupakan calon paling muda, justru tampil dan bergaya paling oldschool. Sebenarnya, jika Agus sedikit ‘urakan’, ‘slengean’, atau asik seperti apa yang ditunjukan Ridwan Kamil, Agus tidak akan begitu rendah suaranya, atau bisa saja dia yang ikut maju ke putaran dua. Bisa saja agus yang tampil lebih tua dari umurnya ini adalah karena terjebak oleh dua calon lainnya, tapi harusnya, SBY sebagai ayah, sebagai mentor, mengingatkan Agus agar tetap tampil sebagai dirinya sendiri.
 
Guru pertama bagi anak adalah orang tua (seharusnya), namun dari pilkada ini saya menemukan bahwasanya, SBY gagal untuk menuntun Agus sukses didunia barunya, dunia politik.

Akhir kata, selamat untuk Ahok-Djarot, Anies-Uno yang lanjut ke babak selanjutnya. Siapapun yang terpilih semoga sanggup memajukan Jakarta, karena jakarta adalah ibu kota negara, Kota yang menjadi harapan bagi kota-kota lainnya diseluruh Negara Indonesia, kota yang menjadi role model untuk negara.

Bangkit Semesta Juang Wahab
Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Orang Tua (harusnya) Adalah Mentor Terbaik Orang Tua (harusnya) Adalah Mentor Terbaik Reviewed by LPM Gemercik on Friday, February 17, 2017 Rating: 5

Fashion

Close