OPINI: Pemikir Pendikir

Zaman sekarang ini, seperti yang kita lihat di TV, banyak sekali pejabat yang pulang-anting ke KPK setiap hari. Bahkan sudah menjadi sebuah kebiasaan sehingga membuat kita tidak merasa aneh tatkala melihatnya. Pastinya, pejabat bukanlah orang rendahan yang memiliki ilmu secukupnya. Mereka dipilih karena memang memiliki kecerdasan dan ketangkasan dibanding yang lain. Banyak diantara mereka yang memiliki gelar Profesor, Doktor ataupun merupakan lulusan luar negeri. Namun sekarang, beberapa dari mereka sudah banyak yang terjerat dengan kasus korupsi. 


Di sisi lain kita tahu banyak orang yang mengagung-agungkan Liberalisme, yang menginginkan penerapan gagasan ke semua aspek kehidupan mereka. Dalam pemikiran, semua doktrin harus dihapus, baik doktrin agama ataupun budaya, karena itu semua jelas akan mempersulit gagasan.

Dalam hal ekonomi, tidak boleh ada campur tangan dari pemerintahan dalam menjalankan roda perekonomian. Semua jenis kegiatan ekonomi dijalankan oleh masing-masing pribadi. Mereka tidak tahu yang sebenarnya digagaskan hanya berdasar pada kebenaran teori semata, bukan pada kebenaran di lapangan. Bob Sadino pernah berkata “Jika teori menyalahi apa yang terjadi di lapangan, maka yang benar adalah apa yang terjadi di lapangan.”

Semua yang telah saya sebutkan di atas, bisa dikategorikan sebagai pemikir yang bukan pendzikir. Mereka sangat jauh dari nilai-nilai spiritual. Di dalam Al-Quran banyak disebutkan kata-kata yang menunjukkan pujian terhadap para pemikir, seperti kata ulul abshar, ulun-nuha, la’allakum ta’qiluun, ulul-albab, dan lain sebagainya. Ini menunjukkan bahwa pemikir memiliki derajat yang tinggi.

Derajat tinggi yang mereka raih disebabkan karena mereka menggunakan dan memanfaatkan akal pikiran. Akal merupakan hal pembeda antara manusia dengan binatang. Manusia memiliki akal, sedangkan hewan tidak. Jadi, orang yang tidak memanfaatkan akalnya itu sama saja seperti binatang. Di samping itu, pemikir yang jauh dari nilai spiritual akan buta dalam menjalankan hidup. Kepintaran mereka digunakan untuk memenuhi kepuasan nafsu belaka. Maka pantaslah jika Rasulullah bersabda “Barang siapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah hidayahnya, maka tidaklah bertambah orang itu dari Allah kecuali kejauhan.” Sedangkan orang yang jauh dari Allah tidak pantas padanya kecuali neraka.

Berdzikir adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta. Dzikir merupakan inti dari semua ajaran thariqoh dalam ajaran thasawuh. Orang yang senantiasa berdzikir hatinya akan tenang, hidupnya akan bahagia dan tentunya akan dijanjikan surga. Berdzikir pun perlu ilmu, orang yang berdzikir tanpa memiliki ilmu akan sesat dan akan jauh dari Allah. Karena sewaktu-waktu akan beranggapan bahwa “Akulah yang paling suci” dan “Akulah yang paling benar”. Hal ini telah mencoreng esensi dari ibadah atau dzikir itu sendiri yakni kehambaan dan kerendahan diri di hadapan Tuhan.

Oleh karena itu, seorang pemikir harus menjadi seorang pedzikir. Orang yang berilmu tanpa beragama itu buta karena akan menghalalkan segala cara untuk mencapai cita-citanya. Sebaliknya, orang yang beragama tanpa memiliki ilmu, akan hampa. Hampa dalam mencapai esensi kehambaan dan kerendahan diri di hadapan Tuhan. Alangkah baiknya seperti yang pepatah katakana, “Dengan ilmu hidup akan mudah, dengan agama hidup akan terarah, dan dengan seni hidup menjadi indah.” Berilmulah, karena ilmu tidak akan menyesatkan pemiliknya! 
Jenna Meuthia Aliffiana
OPINI: Pemikir Pendikir OPINI: Pemikir Pendikir Reviewed by LPM Gemercik on Friday, February 17, 2017 Rating: 5

Fashion

Close