Gesekan antara Nasionalis Sekuler dengan Nasionalis Islam Kembali Terjadi

Indonesia adalah negara kesatuan yang memiliki daratan seluas 1.919.440 km², dihuni oleh 237.641.326 jiwa yang didalamnya terdapat 1.340 suku bangsa, 737 macam bahasa, dan masyarakatnya memeluk salah satu dari 6 agama yang diakui. Negara Kesatuan Republik Indonesia ini memiliki semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang memiliki arti "Berbeda - beda tetapi satu jua".

Sudahkah terlaksana makna daripada Bhinneka Tunggal Ika?




Sejak era BPUPKI, pasca reformasi ketika terjadi amandemen terhadap UUD 1945 sebanyak empat kali, bahkan sampai saat ini pertentangan antara penganut ideologi Nasionalis Sekuler dengan Nasionalis Islam masih berlangsung. Nampaknya para pemegang ideologi ini masih bersikukuh dengan amat sampai tidak ingin kalah satu sama lainnya.

Di era 1930an dimana PNI dengan para tokoh - tokohnya termasuk juga Soekarno yang mewakili Nasionalis Sekuler lalu di kalangan Islam dengan tokohnya HOS Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Ahmad Hasan, dan Muhammad Natsir yang mewakili Nasionalis Islam. Diantara Soekarno dan Muhammad Natsir terjadi perselisihan mengenai bentuk dan dasar negara. Menurut Soekarno, agama merupakan urusan spiritual dan pribadi, sedangkan negara merupakan urusan dunia dan kemasyarakatan. Lalu Muhammad Natsir melawan, ajaran Islam bukan semata - mata mengatur hubungan manusia dengan tuhannya saja, namun juga antara manusia dengan sesamanya.

Rupanya sampai saat ini perdebatan antara Nasionalis Sekuler dan Nasionalis Islam masih terjadi. Nasionalis Islam seperti dibangunkan dari tidur lamanya disaat adanya kasus tuduhan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disapa Ahok. Dengan sedikit percikan api, nampaknya persoalan ini telah menjadikan kebakaran besar. Rakyat Indonesia nampaknya kembali terpecah belah menjadi dua kubu, antara kubu Pro terhadap Pemerintah dengan Pro terhadap Front Pembela Islam (FPI). Hal ini diperparah lagi dengan menjamurnya berita - berita hoax yang dengan mudah diterima oleh para pengguna media sosial.

Gesekan kali ini sama persis seperti disaat era Soekarno. Akan tetapi, nampaknya kubu Pro FPI ini seperti layaknya memiliki kunci negara karena banyaknya desakan - desakan yang mereka lontarkan dan diikuti dengan ancaman oleh para pendukung FPI jika tuntutan mereka tidak dilaksanakan oleh pemerintah. Persoalan seperti ini memiliki dampak positif dan negatif tentunya. Akan menjadi positif jika aksi - aksi yang dilakukan oleh para pro FPI murni karena adanya kesalahan yang dilakukan oleh para pro pemerintah. Tapi akan menjadi negatif bila ternyata aksi FPI ini "ditunggangi" oleh kepentingan para aktor - aktor politik.

Tidak ada yang mau mendapati konflik, akan tetapi konflik juga tidak dapat dihindari. Konflik dalam negara sewaktu - waktu memanglah diperlukan karena konflik dapat menjadikan negara itu menjadi lebih baik kedepannya.




Rama Addit Tya


Gesekan antara Nasionalis Sekuler dengan Nasionalis Islam Kembali Terjadi Gesekan antara Nasionalis Sekuler dengan Nasionalis Islam Kembali Terjadi Reviewed by LPM Gemercik on Thursday, February 09, 2017 Rating: 5

Fashion

Close