CERPEN: Sepaket Kasih Sayang yang Kepedasan


Sepaket Kasih Sayang yang Kepedasan

(Terimakasih Mercusuar Kehidupan)


Aku selalu menyukai senja, aku selalu menyukai keanggunan yang dibawa semesta bersama senja. Aku menyukai keikhlasan senja dengan isyarat temaram yang memesona. Aku mencintai senja dan segala lukisannya. Karena senja sempat membuatmu tertahan di sini.

Cahaya temaram dan burung-burung gereja yang berterbangan kembali ke sarangnya adalah bagian dari keindahan karya semesta. Keindahan yang menceritakan bahwa selalu ada sesuatu yang datang lalu pergi begitu saja entah akan kembali atau menghilang selamanya. Senja menjadi alasan seseorang untuk kembali ke rumah. Entah untuk sekadar beristirahat atau membalas rindu kepada sang keluarga, namun tidak denganku hari ini. Jadwal rapat tengah menanti. Soreku dihabiskan untuk rapat rutin organisasi, beginilah resikonya, karena aku tahu negeri inipun butuh pemuda penuh aksi bukan sekedar ambisi.

Setengah malas aku langkahkan kakiku menuju bangunan yang terletak di sudut kampus. Tempat dimana teman-teman sudah menungguku dari tadi. Selalu ada tawa yang terselip di balik dinding-dinding ruangan yang berukuran 7x6 meter itu. Sebuah gelak tawa yang menjadi pelipur lara bagi mahasiswa perindu masakan rumah. Rapat sore itu berjalan sersan, serius namun santai. Pembahasan program kerja yang selalu diselingi humor itu tiba-tiba berubah menjadi keheningan yang mendinginkan. Sebuah kabar duka mampu merubah tawa menjadi jeritan airmata.

“Ini masalah serius.. Jangan sampai kita bernasib sama dengan senior kita. Tolong rahasiakan dahulu jangan sampai ada yang tahu,” seseorang berbicara dengan mimik yang kamu pun bisa menebaknya. Seisi ruangan hanya mematung tanpa kata, seakan tengah mencari kalimat yang mampu mendeskripsikan perasaan hati sore itu. Ah ya, apalagi ini. Sebuah ekspresi kekecewaan, kemarahan dan dendam mampu kamu temukan dengan mudah di ruangan berukuran 7x6 meter kala itu. Sebuah jerit tangis memecahkan tawa yang sempat menjadi melodi penghibur kepenatan di sela-sela rapat. Aku hanya tertahan diam, berusaha menguatkan rekan-rekanku sembari menelisik tanya di hati, “Sejak kapan ini semua terjadi?”

Semenjak sore itu, semenjak tangisan di ruangan penuh kenangan itu. Arus hidupku berubah 180 derajat. Angin seperti memutar balikan arah, menguji pertahanan. Tuhan sanggupkah aku? Pertanyaan yang selalu menghantui hari-hariku selanjutnya. Pertanyaan yang akan terjawab dengan firman Tuhan yang artinya Ia tidak menguji kaum-Nya melebihi batas kemampuan hamba-hamba-Nya yang sabar. Semenjak sore itu permasalahan terus mengekor panjang bak game snack yang biasa aku mainan kala masih kecil dahulu. Sejenak semesta mengejarkan bahwa hidup adalah sebuah penerimaan yang baik, seperti daun yang jatuh tak pernah menyalahi ranting dan angin. Atau padi yang tak pernah menyalahi tanah dan matahari. Bahwa hidup adalah soal keikhlasan. Keikhlasan dalam kesabaran. Kesabaran dalam penantian dan ikhtiar. Bahwa yang benar akan tetap benar. Dan sang pembinasa akan berakhir dengan kebinasaan. Suatu saat nanti dan itu pasti.


***

“Aku ngga kuat.. Aku ngga sanggup. Ini berat. Kita salah apasih?” keluhnya teselip dalam percakapan serius kita sore itu.

Aku hanya mengelah nafas panjang lalu kembali menyeruput kopi dingin kesukaanku.


“Inilah konsekuensinya gengs karena kita anak ormawa dan kita tahu semua permasalahan kampus,” celetuk salah satu teman. Mulutnya masih penuh dengan lumeran pisang coklat andalan kafe depan kampus. 


Tapi ini berat, permasalahan datang bak semut dalam botol gula,” imbuhnya lagi.

Aku ngga ngerti. Tapi yang pasti untuk saat ini kita cuma butuh saling menguatkan teman-teman,” kataku menambahi jawaban salah seorang teman.

Obrolan itu mengalir begitu saja diikuti sang mentari yang turut tenggelam bersama permasalahan-permasalahan yang tak kunjung padam.

Hari-hari kita selalu terhabiskan dengan kajian dan penyusunan strategi. Kegiatan yang cukup menguras pikiran selain kuliah. Aku mulai terbiasa dengan semua ini namun tetap saja aku rindu dengan siklus hidupku dahulu, dengan tawa bebas bak anak panah. Dengan senyum mengembang bak bunga yang mekar di musim semi. Lamunku menerbang, pikiranku melayang. Sebuah pilihan tepat karena aku mencintai teman-temanku, aku menyayangi keluarga tanpa ikatan darah ini. Aku harus bertahan, setidaknya jadi tim penguat bagi mereka atau tim hore tanpa pompom di kedua tangan atau mungkin kamu lebih suka menyebutnya tim medis kesemangatan hehe.

Mataku masih menatap kaku monitor berukuran 30x25 cm itu, di tengah siang yang panasnya mencekik kerongkongan, aku terduduk manis dengan laptop yang terpangku rapih di pahaku. Melihat-lihat sebuah album lama tentang kita. Aku tertawa pelan, lalu sepasang mata melirik ke arahku dengan tajam. Ia tersenyum, mungkin aku mulai menyukai senyumnya itu. Sedikit manis tapi lebih banyak tulusnya..

Apa mungkin karena ini makanya banyak sekali pembredelan media di indonesia?” Tanyaku kepada seseorang yang kini menatapku penuh.

Mungkin, makanya kamu harus kuat ya! Ngga boleh cengeng,” jawabnya singkat kemudian mengalihkan pandangan pada game di PC nya.

Tapi aku benci harus berkutik dengan manusia-manusia setan itu. Aku ingin damai. Aku ingin menjadi riak air, ia tak perlu meninggi tapi mampu menolong hingga ke akar bumi,” aku lesu menyaksikan keadaan saat ini, ketika manusia-manusia pemuja setan itu tengah asyik bermain drama.

Dan lagi kita kan agent of change kenapa mereka terlalu terfokus dengan kajian dan kritikan. Padahal banyak anak buruh yang putus sekolah, gelandangan masih perlu dibina atau mungkin satu dari masyarakat sekitar kos mereka yang setiap malam harus menahan lapar dan dingin,” tambahku

Kau tahu itu, di sinilah kita mengawal mereka. Apa kamu mau kebenaran selalu tertindas di bawah?”

Aku masih merengek, seseorang di hadapanku malah tertawa puas melihat aku menderita. Mungkin karena ekspresiku saat itu cukup membuat perutnya terpingkal. Huh sebal! Tetapi aku menyukai percakapan singkat itu, atau tepatnya aku menyukai cara ia memberiku semangat. Meski terkadang lebih sering membuatku kesal.

Kamu laper ngga?” Seseorang yang lain bertanya padaku.

Jajan yuk! Aku mau vanilla latte dingin nih sama cigor pedas kemarin,” ajaknya dengan mata ajakan yang tak dapat kutolak.

Dih, kan gue yang tanya ke Apri, kenapa jadi lo yang ngajak dia,” seseorang yang lain mendumal.

Ih apasih? Hayu jajan ramean aku kepingin dikawal dua bodyguard pribadi nih, hehe..” Aku menyela percakapan keduanya.

Aku tersenyum melihat kedua lelaki itu, kedua teman dengan usahanya membuatku selalu tersenyum. Para sahabat dengan sepaket kasih sayang yang kepedasan. Tapi aku suka pedas, jadi akupun suka mereka. Aku suka cara tuhan mencampur bumbunya. Tidak terlalu manis juga terlalu pedas. Aku selalu bilang, aku ingin menjadi air yang melengkapi ‘kepedasan’ mereka. Terimakasih agen tuhan, sang mercusuar kehidupan. Sang sebab tawa ini masih ada. Ah ya, setidaknya merekalah alasanku bertahan. Bilapun waktu memaksaku mati, merenggut nafas yang ku miliki. Setidaknya aku ingin menjadi kenangan yang mendamaikan. Aku ingin dikenang seperti gemercik air.



Sebuah cerita dari kutipan novel tanpa judul
Teruntuk mereka yang menyayangiku,
“Kenang aku seperti AIR”
-Anonim-
CERPEN: Sepaket Kasih Sayang yang Kepedasan CERPEN: Sepaket Kasih Sayang yang Kepedasan Reviewed by LPM Gemercik on Saturday, February 18, 2017 Rating: 5

Fashion

Close