Cerpen : Percakapan di Sebuah Pasar

Gayatri paling gemar melihat orang-orang yang ada di sekitarnya menatap ia terperangah atas segala apa yang melekat di tubuh rampingnya itu. Entah nantinya akan berakhir dengan pujian, sanjungan, cemoohan, gunjingan, atau bahkan hinaan. Semua respon ia terima. Yang terpenting baginya adalah semua orang tahu apa yang sedang ia kenakan.

Pagi itu ia sengaja pergi ke pasar tradisional dengan tampilan ala ibu-ibu pejabat yang hendak mendampingi suaminya kampanye di sebuah daerah kumuh. Namun hanya saja ia seorang janda. Kepalanya ditutupi kain kerudung namun beberapa helai rambut bagian depannya dibiarkan terurai hingga ke dahi. Lengan bajunya hanya tiga per empat. Tangannya sengaja diayun-ayunkan agar terdengar bunyi gemerincing gelang-gelang emasnya. Ia berjalan menghentakkan kaki lebih keras supaya semua orang dapat mendengar suara ketukan high heels-nya yang baru ia beli dari Negeri Jiran. Ia mengenakan kemeja semi formal dengan kerah yang sengaja ia tampilkan agar tampak untaian-untaian kalung mutiara yang menggelayut di lehernya, kalung-kalung itu masing-masing berbandul berlian sebesar biji buah nangka. Dan hampir kesepuluh jarinya terpasang cincin dari berbagai jenis batu mulia dan logam, mulai dari perak hingga emas dengan harga termahal.

Lapak demi lapak ia lalui. Kakinya melangkah bak seorang model yang berjalan di catwalk. Musik-musik bernada klasik yang diiringi saxophone sepertinya cocok mengiringi langkahnya. Dengan bangganya ia tampilkan apa yang ia miliki. Bahkan toko emas sekalipun tampaknya kalah komplit dengan koleksi yang dikenakan Gayatri. Mata demi mata menyumbangkan perhatian padanya. Ia semakin senang dan bangga. Selanjutnya ia melangkah ke area lapak sayur mayur dan daging.

Sekelebat omongan berhasil tertangkap telinga wanita 42 tahun itu. “Tumben Jeng Gayatri mau masuk ke pasar,” Kata salah seorang pedagang ayam potong yang kerap melihat penampakkan Gayatri berwara-wiri di media massa karena sensasi kemewahannya..

Gayatri menyempatkan diri untuk merespon, “Eh, Bu... Sebetulnya saya enggan berada di tempat seperti ini. Tapi di mana lagi tempat saya untuk berbagi-bagi kesenangan, segala Mal dan pusat perbelanjaan kelas atas di kota ini sudah saya sisir semuanya. Orang-orang di sana sudah mengenal saya. Saya rasa penghuni pasar ini belum mengetahui saya seutuhnya.” Gayatri mengakhirinya dengan senyuman elegan.

Ia melanjutkan petualangannya mengitari lapak-lapak sayuran sambil sesekali mampir ke salah satu lapak untuk sekedar melihat-lihat sayuran yang ada.

“AWAS!” Seorang pemuda berteriak sambil menarik Gayatri yang sedang sibuk memerhatikan untaian-untaian kacang panjang.

Gayatri nyaris terjatuh. Seisi pasar dibuat heboh gara-gara insiden ‘Toko Mas’ yang nyaris roboh itu. Untung pemuda tadi lekas melapangkan kedua tangannya untuk menjaga Gayatri agar tidak jadi bahan tawaan orang. Gayatri jatuh ke tangan pemuda itu. Tak hanya tersanjung, Gayatri langsung terbius oleh ketampanan yang dimiliki lelaki berparas Asia itu.

“Awas, Bu!” Anak itu menyingkirkan seekor ular yang hendak menggerayangi kaki Gayatri. Ular itu ia ambil dengan tangannya, lantas dimasukkan ke dalam kantung.

Gayatri bergidik ngeri saat melihat beberapa ekor ular lainnya muncul dari lapak-lapak pedagang. Ia sempat panik. Namun remaja tampan itu menenangkan Gayatri dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Kenapa di pasar begini ada ular?” Herannya.

Pemuda tersebut menjelaskan, “Coba ibu lihat, ini memang pasar reptil, Bu.”

Mata Gayatri berkeliaran ke penjuru pasar. Alangkah terkejutnya ia melihat banyak sekali jenis reptil yang dijual di sana. Mulai dari biawak, buaya, bunglon, ular, bahkan beberapa binatang seperti babi, anjing, kelelawar dan tikus pun tak sedikit yang dijajakan. Ia lupa dengan daging sapi, daging ayam, buah-buahan, dan sayur mayur.

Perkenalan dimulai. Sang pemuda memberikan jabatan tangannya. “Saya Teguh, Bu. Kelihatannya ibu sedang mencoba mengingat sesuatu, bukan?”

Gayatri tersipu malu pada Teguh. “Saya Gayatri. Mmmm... iya, saya heran saja. Perasaan saya bukan masuk ke tempat ini. Tapi ke mana, ya? Lalu, saya dari mana?”

Teguh memandang Gayatri dengan tatapan lain. Tatapan yang memberikan sebuah harapan akan sebuah rasa. Semakin ditatap, Gayatri semakin hanyut dalam sikap yang ditunjukkan Teguh padanya. Gayatri 17 tahun pun terulang kembali. Ia mulai merasakan getaran cinta seperti halnya masa ABG dulu. Rupanya jatuh cinta tak mengenal anak remaja saja, wanita seperti Gayatri pun turut merasakan meski kini usianya menginjak kepala empat.

“Ibu tidak kemana-mana dan tidak dari mana-mana. Ibu ada di sini, bersama saya.” Ujar Teguh.

“Aduh, jangan panggil ibu, dong. Memangnya tampang saya tua, ya?”

“Lalu saya mesti panggil apa?”

“Kakak. Kakak Gayatri. Mmmm... ngomong-ngomong kamu sudah kerja? Sudah punya pacar? Atau... jangan-jangan kamu sudah nikah?” Semua pertanyaan Gayatri dijawab dengan gelengan kepala.

“Saya masih kuliah, Bu. Eh, maksud saya kakak.”

“Kuliah? Ambil jurusan apa?”

“Saya ambil jurusan kedokteran hewan.”

Gayatri tercengang sekaligus kagum pada sang calon dokter hewan itu. “Wah, wah... hebat! Berarti kamu itu penyayang binatang, ya?”

“Begitulah kira-kira, Kak. Makanya saya ke pasar ini mau memantau hewan-hewan reptil yang sakit dan tidak layak jual supaya bisa saya rawat, sekaligus untuk memenuhi tugas mata kuliah.”

Di sela-sela pembicaraan, Gayatri merasa ada yang tak beres di lehernya. Ia meraba-raba. Sontak ia berteriak kencang melihat seekor ular melilit lehernya. Teguh berusaha menenangkannya. Perlahan-lahan ular tersebut diangkat dari leher Gayatri. Ia menyimpan ular itu dalam kantung.

Beres masalah ular, kini Gayatri merasa tasnya begitu berat. Ketika dilihat, belasan ekor tikus bergerak keblingsatan mencari jalan keluar dari tas itu. Perlahan-lahan Teguh mengambil satu per satu tikus-tikus itu dan dimasukkan ke kantungnya.

“Teguh, saya betul-betul tidak tahu apa jadinya saya tanpa kamu di sini. Kamu betul-betul pahlawan buat saya. Kamu telah menyelamatkan nyawa saya, Guh. Saya berterima kasih banyak sama kamu.”

“Biasa saja, Kak.” Teguh merendah. “Mohon maaf sebelumnya saya harus pergi, Kak. Kita bisa bertemu lain waktu di tempat ini. Sampai jumpa!” Teguh melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Gayatri yang sudah terlanjur cinta pada Teguh cukup menyayangkan pertemuan yang singkat itu. Ia pun kecewa karena belum mengungkapkan perasaannya.

Teguh mulai lenyap dari pandangan Gayatri. Ia hilang ditelan kerumunan orang-orang.

Seolah lupa dengan pertemuan bersama Teguh, Gayatri kembali lanjut melihat-lihat kacang panjang yang sempat tertunda. Puas memilah-milih kacang panjang, ia beralih pada tomat dan beberapa sayuran lainnya. Tergiur dengan sayur-sayuran segar akhirnya ia berniat untuk membeli.

“Kacang panjang, seledri, wortel, kentangnya satu kilo, bumbu sop-nya satu bungkus, ayamnya setengah kilo...” Satu per satu bahan-bahan untuk membuat sop ia absen. Hari itu ia hendak memasak sop ayam dengan porsi yang besar mengingat nanti sore di rumahnya akan ada acara arisan.

Saatnya transaksi. Gayatri merogoh tasnya. Cukup banyak waktu yang ia habiskan hanya untuk mengambil dompet.

“Semuanya jadi 112.000 rupiah, Bu.” Kata sang pedagang.

“Iya, iya, Mas. Uang segitu kecil buat saya. Sabar, saya lagi nyari dompetnya nih. Duh, susah banget!” Akhirnya mata pun diarahkan untuk melihat isi tas karena tak cukup dengan mengandalkan rogohan tangan. Ia kaget betul ketika melihat isi tasnya hampa tak ada apa-apa. Seiring dengan itu ia menyadari kalau kalung berliannya sudah tidak menggantung di leher. Ia panik bukan kepalang. Tak cuma panik, namun juga malu, karena untuk bayar 112.000 rupiah saja ia tak mampu. Tingkah Gayatri yang kelimpungan itu disaksikan banyak orang di pasar.

Seorang wanita di sebelahnya berkata, “Makanya kalau ke pasar jangan pakai perhiasan yang berlebihan, Bu. Jadi kena hipnotis orang, tuh.”



SELESAI

Umar Farooq Zafrullah
FKIP Pendidikan Biologi
Cerpen : Percakapan di Sebuah Pasar Cerpen : Percakapan di Sebuah Pasar Reviewed by LPM Gemercik on Sunday, February 26, 2017 Rating: 5

Fashion

Close