OPINI: Kita Itu Kaya, Jangan Sok Miskin!

Kita Itu Kaya, Jangan Sok Miskin!

Opini by: Antania

 
Subianto (2004: 13) berpendapat bahwa realita yang kita hadapi adalah Paradoks Indonesia. Negeri kaya tapi rakyatnya miskin. Tak ada yang bisa memecahkan krisis ini sendirian. Keluar dari kemelut bangsa membutuhkan kekompakan besar.

Perekonomian negara tercinta kita Indonesia, kini keterpurukannya sudah menduduki titik yang cukup signifikan dan cukup krusial untuk dibahas pemajuannya. Mayoritas masyarakat abad ini terlalu sibuk “mengurus perekonomian bangsa lain”. Dalam arti bahwa kini masyarakat lebih tertarik pada hasil produksi orang lain, mulai dari makanan, busana, musik, tarian, serta produk lainnya, bahkan juga moral. Seperti peribahasa Sunda mengatakan, “Adéan ku kuda beureum”, yang berarti bangga dengan barang milik orang lain. Saat ini tanpa rasa malu, sebagian besar masyarakat kita semakin mengimplementasikan peribahasa tersebut.

Jika dipikir lebih jernih, Indonesia itu punya berbagai produk budaya yang tidak terhitung jumlahnya dan luar biasa cantiknya. Bisa dibilang terlalu kaya akan kebudayaan. Produk-produk hasil kebudayaan yang dimiliki bukan tak memiliki potensi, hanya saja kebanyakan masyarakat di tanah air kurang mendorong produk-produk tersebut untuk lebih berkembang. 
 
 


Apabila dikaji kembali, hasil kebudayaan negeri ini sebenarnya sama sekali tak kalah saing dengan kebudayaan lain. Contoh kecilnya, Indonesia punya batik, kebaya, songket, wayang, tari-tari daerah, lagu-lagu dan alat musik tradisional, makanan khas daerah, bahkan adat dan perilaku asli bangsa Indonesia yang keseluruhannya beragam serta sangat mampu membangun perekonomian Indonesia menjadi maju dan punya nama besar.

Saat ini dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia mempunyai mentalitas pembangunan yang cukup lemah. Fensin (Peale, 2005: 28) mengatakan, “People become really quite remarkable when they start thinking that they can do things. When they believe in themselves they have the first secret of success”. Rasa percaya diri bahwa kita bisa maju sendiri itulah yang perlu ditanamkan dalam setiap individu bangsa Indonesia.

Masyarakat Indonesia perlu berpikir panjang mengenai bagaimana Indonesia kedepannya. Mau dibawa ke mana perekonomian kita? Akankah kita terus diam dan semakin terpuruk? Akankah kita terus terlena dan selalu dimanjakan oleh karya dan teknologi bangsa lain? Lama kelamaan barang impor akan mulai mendominasi, maka barang lokal akan semakin tergeser eksistensinya. Lama kelamaan kita akan jadi lebih senang menonton dan menikmati hasil kreativitas budaya orang lain dan mengubur budaya sendiri.

Aset-aset berharga negara yang punya potensi tinggi bagi perekonomian kini sudah banyak dikuasai asing. Kita tidak bisa dengan bodohnya hanya menyerah pada keadaan dan menutup mata pada kekayaan lain yang dimiliki. Jika mampu mengoptimalkan kebudayaan, tak diragukan lagi kita akan jadi negara terkaya, mengingat hasil kebudayaan yang tak terhitung. Kita hanya perlu merubah sebagian besar paradigma mayoritas masyarakat yang malu menggunakan hasil kebudayaan sendiri. Bali bisa sedemikian maju tidak hanya karena tempat-tempat wisatanya, tapi didukung oleh masyarakatnya yang masih memegang erat kebudayaan mereka, kebudayaan kita, Indonesia. Kebaya sebagai pakaian sehari-hari, tari-tarian, upacara adat, dan lain sebagainya.

Sudah lama sekali negara kita dijajah, lalu pada akhirnya bisa meraih kemerdekaan. Namun kemerdekaan ini bukankah jadi terasa semu? Jika dulu para pahlawan berjuang jiwa dan raga demi memerdekakan negara ini, lalu mengapa saat ini kita dengan sukarela menerima untuk ‘dijajah’ kembali? Bukan hanya oleh satu atau dua negara, tapi oleh banyak negara maju yang mengoptimalkan kemampuan dan kreativitas mereka. 

Sumber gambar:


OPINI: Kita Itu Kaya, Jangan Sok Miskin! OPINI: Kita Itu Kaya, Jangan Sok Miskin! Reviewed by LPM Gemercik on Friday, January 27, 2017 Rating: 5

Fashion

Close