Catatan Penghujung Tahun untuk Generasi Siliwangi

Catatan Penghujung Tahun untuk Generasi Siliwangi

Siska Fajar Kusuma
Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Jurusan Manajemen 2015
Redaktur Pelaksana LPM Gemercik UNSIL 2015-2016


Kampus kita tercinta, Universitas Siliwangi dengan jas almamater khas berwarna kuning merupakan universitas terbesar di Priangan Timur. Mencintai almamater adalah sebuah keharusan bagi kita selaku generasi siliwangi. Tak lepas dari julukan Kampus Perjuangan, kini UNSIL mulai dipandang dan dilirik banyak pihak. Tak dapat dipungkiri, UNSIL harus mampu mencetak generasi pembangun bangsa seperti komitmennya. Mahasiswa UNSIL harus mampu menopang pembangunan bangsa. Lalu bagaimana keadaan mahasiswa UNSIL dipenghujung tahun 2016?

Tahun 2015-2016 diwarnai dengan kepemimpinan Presiden Mahasiswa Panji Pandi Pandami. Tak lupa gaya khas Jejen Zaenal Hilmi dalam memimpin Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) UNSIL. OMBUS (Orientasi Mahasiswa Baru Universitas Siliwangi) yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI diwarnai dengan formasi merah putih. Hal yang menakjubkan jika melihat keberlangsungan formasi merah putih pada tanggal 17 Agustus 2016. Terlihat pengawasan OMBUS dari pihak DLM begitu apik dan teliti. Orasi dari setiap perwakilan ORMAWA menghiasi Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 2016). Panggung sederhana di malam HARKITNAS menjadi penutup acara pentas seni kala itu. Tak hanya memeriahkan hari-hari penting demi menumbuhkan rasa nasionalisme generasi siliwangi, pembentukan Panitia Khusus untuk MAM (Musyawarah Akbar Mahasiswa) memberi warna di kampus kita.

Melihat kinerja ORMAWA UNSIL yang sudah berusaha maksimal untuk seluruh warga UNSIL, mari kita lihat mahasiswa yang tetap saja buta, tuli dan bisu. Apatisme menjadi penyakit yang melekat pada mahasiswa UNSIL. Kebanyakan dari kita memiliki rasa ‘bodo amat’ yang apabila dipelihara dalam jangka waktu panjang akan berubah menjadi ‘bodo(h) amat.’ Partisipasi mahasiswa UNSIL sangat kurang dan cenderung lebih aktif di acara-acara besar yang entah esensinya tak jelas. Seperti undangan terbuka seluruh mahasiswa UNSIL untuk mengikuti upacara HARKITNAS, hanya segelintir mahasiswa yang mengikuti. Itupun karena termasuk anggota ORMAWA. Embel-embel absen mata kuliah tertentu selalu menjadi tekanan atau paksaan mahasiswa berpartisipasi pada sebuah kegiatan. Penerapan seperti itu harus dihapuskan. Kita harus membuat mahasiswa UNSIL agar sadar dan ikut berkontribusi guna kemajuan kampus tanpa adanya tekanan dan paksaan.

Segerombolan yang ‘katanya’ mahasiswa, mengecilkan arti perjuangan para aktivis kampus. Bisa dilihat dari kurangnya pengisian kuisioner yang dibuat oleh PANSUS MAM. Dari jumlah 14.000 mahasiswa UNSIL, hanya 700 mahasiswa yang mengisi kuisioner. Hal ini tidak sesuai dengan hukum yang minimalnya 10% atau sekitar 1.500 mahasiswa harus mengisi kuisioner. Lain halnya dengan salah satu akun instagram yang mengatasnamakan universitas tanpa diketahui admin dan legalitasnya. Mahasiswa UNSIL berbondong-bondong mengupload foto terbaiknya demi direpost oleh akun tersebut. Entah apa value dari aktivitas tersebut. Hanya ajang ketenaran, menggebrak popularitas, pencarian pacar atau agar dipandang hits/kekinian. Lain lagi dengan aktivis kampus yang memposting dengan caption panjang lebar yang terkadang membuat malas followersnya. Paradigma yang ramai dipandangan mahasiswa saat ini adalah aktivis kampus memiliki ciri khas kuliah keteteran dengan IPK yang jeblok. Bahkan mencapai lulus dengan predikat Drop Out (DO). Apatisme mahasiswa UNSIL terhadap dunia politik memang dibayangi pula oleh politik negeri ini yang ditayangkan media.

Bukan hanya melihat mahasiswa apatis di UNSIL, sekarang ini banyak mahasiswa yang ‘ingin’ disebut aktivis. Sehingga timbul pertanyaan, aktivis atau aktiv-sih? Mengatasnamakan dirinya sebagai aktivis walaupun tidak mengetahui esensinya. Ikut sana-sini agar terlihat seperti aktivis. Hal itu mengakibatkan banyak yang terjebak dalam sebutan dan dijadikan wayang oleh aktivis licik yang memanfaatkan peluang demi kepentingannya. Aktivis yang berkepentingan akan selalu mengambil manfaat dari kelemahan orang lain untuk membela kepentingannya. Lucunya, bisa saja detik ini menjadi sahabat bahkan kekasih. Namun detik berikutnya menjadi musuh yang sudah mengibarkan bendera perang. Mengutip postigan Hafid Triadmaja Mahasiswa Indonesia pada tanggal 8 November 2016 dalam akunnya di medium.com. “Musuh dalam politik bukan berarti musuh dalam kehidupan sehari-hari. Teman dalam kehidupan sehari-hari juga bisa menjadi yang paling menjatuhkan di ranah politik. Jangan bergerak tanpa adanya kepercayaan diantara kalian.”

Warna-warni di ORMAWA tak luput dari menyebar isu-isu panas, saling serang dan menjatuhkan, bahkan ada yang menjatuhkan dalam masalah pribadi atau akademik. Timbul satu pertanyaan, apa yang dicari? Jabatan dan kedudukan hanya sementara, bahkan dapat dihitung lewat hitungan hari. Dengan adanya kepentingan aktivis kampus yang berbeda-beda, politik kampus menjadi berwarna. Namun untuk apa jika politik kampus berwarna kemunafikkan? Setiap aktivis tidak bisa menghilangkan kepentingannya, tapi pilihlah kepentingan yang memberi pengaruh positif bagi sema pihak, bukan sekedar positif bagi satu golongan saja.

Melirik MAM UNSIL yang tak kunjung surut diperbincangkan karena tak mencapai mufakat. Setiap fraksi ingin tampil paling menonjol dan hebat. Kini, mahasiswa berpresepsi bahwa MAM, MUA, MUBESMA, MUMAS dan MUMAJ sebagai ajang bahkan peluang untuk saling menjatuhkan. Desas-desus ‘bubuk’ atau ‘pejet’ terdengar sana-sini pra dan pasca musyawarah. MAM UNSIL yang seharusnya menjadi pencerdasan bagi mahasiswa, disindir sebagai ajang ‘bobodoan’ saja.

Jangan terlalu jauh mengkaji MAM, mari kita sejenak melirik budaya jajapan wisuda UNSIL. Terlihat begitu ramai dengan melestarikan budaya. Tetapi tak ada makna yang disampikan dalam jajapan tersebut bahwa wisudawan/wati merupakan lulusan Universitas Siliwangi. Budaya jajapan wisuda UNSIL lebih menitikberatkan fakultas masing-masing. Persaingan antar fakultas terlihat nyata saat jajapan berlangsung. Semua berkoar lantang membanggakan fakultas masing-masing. Tidak ada esensi satu UNSIL disana. Namun bila dikaitkan dengan masa-masa menjadi MABA saat mengikuti OMBUS universitas, fakultas dan jurusan. Alangkah lebih indah jajapan wisuda disesuaikan layaknya OMBUS. Dijajapan menuju Gedung Mandala oleh seluruh ORMAWA UNSIL. Lalu dijemput oleh setiap ORMAWA fakultas dan jurusan masing-masing. Bukan hal yang aneh bisa semua fakultas ingin menjadi nomor satu dalam pencalonan Presiden Mahasiswa 2016-2017 karena budaya yang diterapkan di UNSIL memang seperti itu adanya. Egoisitas menimbulkan perpecahan yang akan menghancurkan. Urungkan egoisitas, jangan sampai ORMAWA universitas dibekukan.

Kembali melantukan lagu jingle OMBUS buah karya Kang Ade Tri Randika Suci, Mahasiswa FISIP UNSIL. “Kita... disini keluarga. Kita... disini bersaudara.” Penggalan lirik lagu tersebut semoga terealisasikan dan menjadi pengingat disaat mulai ada perpecahan. Universitas Siliwangi merindukan perdamaian, kesatuan dan kekeluargaan. Universitas Siliwangi bukan hanya sekedar perguruan tinggi negeri. Suka, duka, tawa an tangis yang akan menghiasi dengan penuh kekeluargaan. “Namun bila sampai saat ini kita bahkan belum mampu mengatur perpolitikan kampus sebagaimana mestinya, masih pantaskah kita melantunkan kaliman ‘Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!’ ?” mengutip opini Muhammad Abdul Aziz (Staf kajian dan aksi strategis BEM FEB UI 2015) dengan judul opini Melihat Politik Kampus: Pantaskah Kita Memikirkan Negeri ini? SALAM REFORMASI UNTUK GENERASI SILIWANGI!

Sumber foto:
https://dailysocial.id/post/buat-catatan-terenkripsi-password-dengan-aplikasi-io-notes/
Catatan Penghujung Tahun untuk Generasi Siliwangi Catatan Penghujung Tahun untuk Generasi Siliwangi Reviewed by LPM Gemercik on Thursday, December 15, 2016 Rating: 5

Fashion

Close